Jumat, 16 Januari 2009

Kenangan terindah di Bangka


Tahun 1955 di Belinyu ketika berumah Jl,Depati Amir dekat Rumah Sakit TTB
Foto adik dan Uda masa itu sbb:
Adilman; Arziz; Adriana; Boestamam; Rosman; Darwinsjah dan Darhamzah









Tahun 1963 di rumah Jl.Balar bawah disamping sungai kecil.
Ini keluarga besar Papanda Roestam Glr.Soetan Radjo Moedo ketika merayakan
Idul Fitri yg tdd:
Mamanda Iljas & Klg; Mamanda Agus & klg; Halwar; Uda Djohan
dan Bibi Ama







Saya bersama Ibunda dan Papanda dan Kakanda Rosman (Chot) kala di
Bangka.







Masih belajar tengkurap diri sudah diabadikan









Bersama Anduang waktu dirumah Belakang Kantor di Pangkalpinang.
Sebelah belakang Uda Darhamzah dan Darwinsyah


Saya masih ingat ketika tinggal di perumahan dinas TTB (Tambang Timah Bangka) di belakang kantor Pusat dimana kami mempunyai kolam tempat bebek berenang. Kolam itu airnya hijau karena kotor. Da Win rasanya memasukkan ikan keli -lele- kedalamnya. Saya bersama Chot, sekali pernah mau
menangkap ikan tsb dan nyebur kedalam kolam ini. Terlihat oleh Onen ketika itu dan dimarahi. Sepulang Bung Das dari kantor kami berdua dipanggilnya dan dihadiahi ikat pinggang.
Di rumah ini saya pernah disiram oleh Chot dgn air panas sehingga kulit
perut saya melepuh dan ketika itu Onen dan Papa sedang keluar dan ketika pulang mendapati saya dalam keadaan sakit lalu diborehi putih telur, katanya supaya jangan memburuk.
Di depan rumah ada gundukan pasir dan sering kami bermain di gundukan ini dengan membuat lobang
lalu menimbun lubang itu dgn pasir. Kadang ada juga 'korban' yg ke jeblos dilobang itu.
Pernah satu hari saya bermain, dan duduk disatu sudut tanpa memperhatikan sekelilingnya,
dan ketika mau mendudukkan pantat kok sakit, rupanya ada tonjolan kaca yg nancap ke samping pantat saya dan berdarah.
Yang enak tinggal dirumah ini ketika tetangga sebelah rumah kami yaitu Bang Suhaimi yg mempunyai pohon sawo. Kalau beliau habis menurunkan sawo, selalu kami dibaginya. Dan sawo2 itu kami cuci dan dijemur supaya lebih cepat matangnya. Lalu kami peram didalam beras dan setiap hari kami
memasukkan tangan kami ke dalam peti beras tadi utk memeriksa apakah sawo2 itu sudah masak.
Terkadang dari 7 sawo ketika diperiksa sudah tinggal 2 - 3 saja karena ada tangan yg lebih dulu memeriksanya, siapa cepat dia dapat!
Di halaman belakang rumah kami dibikinkan lapangan badminton dan Papa suka bermain di malam minggu bersama teman dgn memasang lampu.
Pernah satu hari Papa kedatangan temannya yg bermobil pick-up, rumah kami agak menurun dan ketika Papa dan tamunya, Oom A Fen, asyik bercerita saya masuk ke mobil dan bermain dgn gigi. Ternyata mobil meluncur. Setelah mengerti baru tahu bahwa kalau mobil ditaruh di turunan, itu musti dimasukkan gigi agar tertahan dan kalau di netralkan/di frei makan dia tidak ada yg menahannya.
heboh!!!
Agak jauh kebawah rumah dibelakang kantor itu ada warung si A Yong, dan saya suak jajan disana
membeli kue biskuit. A Yong orangnya baik dan kami ramai2 sering main dihutan melihat traktor menebangi pohon2 besar. Dan yg paling enak kalau ada pohon kecapi ditebang, maka anak2 berebutan memilih buah2 yg ikut jatuh bersama pohonnya...what a happy days!!

Tidak ada komentar: